Tata Cara Sholat Qasar

Seseorang yang melakukan bepergian jauh diberi keringanan (rukhsah) dalam tatacara pelaksanaan Sholat. Agama memperbolehkan seorang musafir melakukan peringkasan (qasar) dalam Sholat berjumlah empat rakaat menjadi dua rakaat, yakni Sholat zhuhur, ashar dan isya’. Konsensus (ijma’) ulama tidak memperbolehkan qasar untuk Sholat maghrib dan subuh.

Allah SWT berfirman di dalam Surat An-Nisa’ ayat 101.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

Artinya, “Ketika kalian bepergian di bumi, maka bagi kalian tidak ada dosa untuk meringkas Sholat.”

Perincian hukum melaksanakan qasar dibedakan sebagai berikut.

  1. Jawaz (boleh). Seseorang boleh melakukan Sholat Qasar bila perjalanan sudah mencapai 84 mil/16 Farsakh atau 2 Marhalah/80,640 km (8 kilometer lebih 640 m), tetapi belum mencapai 3 Marhalah/120, 960 km (120 kilometer lebih 960 meter). Sholat Qasar boleh dilakukan oleh mereka yang selalu bepergian di darat maupun laut, baik mempunyai tempat tinggal ataupun tidak. Dalam jarak sekian ini mereka semua sunah/lebih baik tidak melakukan Sholat Qasar.
  2. Lebih baik (Afdhal) melakukan Sholat Qasar. Orang lebih baik melakukan Sholat Qasar bila jarak tempuh mencapai 3 marhalah atau lebih.
  3. Wajib. Apabila waktu Sholat tidak cukup untuk digunakan kecuali dengan cara meringkas Sholat (qasar), maka ia wajib Sholat Qasar.

Syarat-Syarat Sholat Qasar

  • Bepergian tidak untuk bertujuan maksiat, yaitu yang mencakup bepergian wajib seperti untuk membayar hutang, bepergian sunah seperti untuk menyambung persaudaraan, atau bepergian yang mubah seperti dalam rangka berdagang.
  • Jarak yang akan ditempuh minimal 2 marhalah/16 farsakh (48 mil)/4 barid/perjalanan 2 hari. Sedangkan dalam menentukan standar jarak menurut ukuran sekarang terdapat beberapa pendapat:
  1. Jarak 80,64 km (8 km lebih 640 m) (Lihat Al-Kurdi, Tanwirul Quluub , Thoha Putra, juz I hal 172).
  2. Jarak 88, 704 km (Lihat Al-Fiqhul Islami, juz I, halaman 75).
  3. Jarak 96 km bagi kalangan Hanafiyah.
  4. Jarak 119,9 km bagi mayoritas ulama.
  5. Jarak 94,5 km menurut Ahmad Husain Al-Mishry.

Kemudian, seorang musafir diperkenankan melaksanakan Sholat Qasar setelah melewati batas desa (pada desa yang ada batasnya) atau melewati bangunan atau perumahan penduduk. Begitu pula batas akhir dia boleh menggunakan hak qasar adalah ketika dia pulang dan sampai pada batas-batas di atas atau sampai pada tempat tujuan yang telah ia niati untuk dijadikan tempat mukim.

  • Sholat yang di-qasar adalah Sholat ada’ (Sholat yang dikerjakan pada waktunya/bukan qadha’) atau sholat qadha’ yang terjadi dalam perjalanan. Sedangkan sholat qadha’ dari rumah tidak boleh di-qasar.
  • Niat Sholat Qasar saat takbiratul ihram. Sedangkan niatnya sebagai berikut.

أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ مَقْصُوْرَةً ِللهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya niat Sholat fardhu zhuhur dengan qasar karena Allah ta’ala.”

Atau bisa dengan niat sebagai berikut.

أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالَى

Artinya, “Saya niat Sholat dhuhur dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Niat di atas diharuskan terjaga selama Sholat berlangsung, dan seandainya terjadi keraguan pada seseorang ketika Sholat (semisal ragu-ragu Sholat Qasar ataukah menyempurnakan, sudah melakukan niat Sholat Qasar ataukah belum dan sebagainya), maka baginya diwajibkan untuk menyempurnakan sholat (itmam), namun tidak harus membatalkan sholatnya akan tetapi langsung diteruskan tanpa meng-qasar.

  • Tidak dilakukan dengan cara mengikuti (bermakmum) kepada imam yang melaksanakan Sholat itmam (tidak meng-qasar), baik imam tersebut berstatus musafir ataukah muqim (tidak bepergian) atau pada imam yang masih diragukan keadaan bepergiannya.
  • Mengetahui tentang diperbolehkannya melakukan Sholat dengan cara qasar. Bukan hanya sekadar ikut tanpa mengetahui boleh dan tidaknya qasar.
  • Dilaksanakan ketika masih yakin dirinya ( Al-Qashir ) masih dalam keadaan bepergian sehingga ketika di tengah-tengah Sholat muncul keraguan atau bahkan yakin dirinya telah sampai di daerah muqimnya (desanya) kembali, maka ia berkeharusan menyempurnakan Sholatnya.
  • Bepergian dengan tujuan yang jelas (daerah/tempat tertentu) sehingga seperti orang yang kebingungan mencari tempat tujuan ( Al-Haim ), orang yang pergi mencari sesuatu yang tidak jelas tempatnya, dan sebagainya tidak diperkenankan untuk Sholat Qasar.